PERILAKU ORGANISASI BIROKRASI

Di Susun Oleh :

Lailatur Rahmah

Neri Yani

M.Solihin

Arfandy Reiza Nasution

Dosen Pembimbing : Wira Sugiarto, S.IP, M.Pd.I

Jurusan : Syari’at dan Ekonomi Islam

Prodi : Siyasah Syar’iyyah

 

 

 

T.A. 2015/2016

 

KATA PENGANTAR

Assalamua’laikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah yang berjudul “Perilaku Organisasi Birokrasi” untuk memenuhi mata kuliah Dasar-Dasar Manajemen Kepemerintahan. Makalah yang disusun untuk mempelajari lebih detail mengenai Perilaku Organisasi Birokrasi ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada kita semua.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin ….

Wassalam,

Bengkalis, 25 September 2015

Kelompok 4

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………… ii

BAB I Pendahuluan…………………………………………………………….. ….. 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………………… 2
  3. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………. 3

  1. Konsep Perilaku Birokrasi……………………………………………………………………………….. 3
  2. Konsep Budaya Organisasi………………………………………………………………………………. 3
  3. Lingkungan Organisasi……………………………………………………………………………………. 5
  4. Tingkah Laku Individu dan Motivasinya ………………………………………………………….. 5
  5. Kepemimpinan……………………………………………………………………………………………….. 7
  6. Ancaman Patologi Birokrasi …………………………………………………………………………….. 8
  7. Perubahan adalah Kebutuhan …………………………………………………………………… ……. 9

 

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………. 10

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………….. 10
  2. Saran…………………………………………………………………………………………………………… 11

 

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………. 12


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Berdasarkan etimologi-nya, kata birokrasi berasal dari kata bureau yang berarti kantor atau meja, krasi yang berasal dari kata kratia yang berarti kekuasaan. Jadi maksudnya kekuasaan yang berda pada orang yang dibelakang meja. Sedangkan menurut KBBI kata birokrasi artinya sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan, cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban serta menurut tata aturan yang banyak liku-likunya.

Menurut teori liberal, birokrasi pemerintah itu menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mempunyai akses langsung dengan rakyat melalui mandat yang diperoleh dalam pemilihan. Dengan demikian birokrasi pemerintah itu tidak selayaknya mendominasi rakyat secara acuh tak acuh. Mereka harus ingat bahwa yang memilih mereka adalah rakyat. Dan untuk itu mereka bekerja demi kesejahteraan rakyat.

Kecenderungan birokrasi dan birokratisasi pada masyarakat modern benar-benar dipandang memprihatinkan, sehingga digambarkan adanya ramalan mengenai makin menggejalanya dan berkembangnya praktek-praktek birokrasi yang paling rasionalpun, tidak bisa lagi dianggap sebagai kabar menggembirakan, melainkan justru merupakan pertanda malapetaka dan bencana baru yang menakutkan.

.                       Meskipun sudah menjadi gejala yang sangat umum, ternyata pada setiap konteks sistem budaya masyarakat, secara empirik birokrasi dan birokratisasi terlihat dalam pola perilaku yang beragam. Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya.

Beberapa alasan, mengapa bentuk ideal birokrasi tidak nampak dalam praktek kerjanya antara lain: Pertama, manusia birokrasi tidak selalu berada (exist) hanya untuk organisasi. Kedua, birokrasi sendiri tidak kebal terhadap perubahan sosial. Ketiga, birokrasi dirancang untuk semua orang. Keempat, dalam kehidupan keseharian manusia birokrasi berbeda-beda dalam kecerdasan, kekuatan, pengabdian dan sebagainya, sehingga mereka tidak dapat saling dipertukarkan untuk peran dan fungsinya dalam kinerja organisasi birokrasi.

  1. RUMUSAN MASALAH

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :

  • Mengetahui Konsep Perilaku Birokrasi
  • Mengetahui Konsep Budaya Organisasi
  • Mengetahui Lingkungan Organisasi
  • Mengetahui Tingkah Laku Individu dan Motivasinya
  • Mengetahui tentang Kepemimpinan
  • Mengetahui Ancaman Patologi Birokrasi
  • Mengetahui tentang Perubahan adalah Kebutuhan

 

  1. TUJUAN PENULISAN MAKALAH

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai pembelajaran bagi para pembaca tentang Perilaku Organisasi Birokrasi agar dapat dipahami, serta untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Dasar-Dasar Manajemen Kepemerintahan.

BAB II

PEMBAHASAN

PERILAKU ORGANISASI BIROKRASI

  1. Konsep Perilaku Birokrasi

Perilaku birokrasi pada hakekatnya merupakan hasil interaksi birokrasi sebagai kumpulan individu dengan lingkungannya. Perilaku birokrasi yang menyimpang lebih tepat dipandang sebagai patologi birokrasi atau gejala penyimpangan birokrasi(dysfunction of bureaucracy). Dalam kaitannya dengan fenomena perilaku birokrasi maka kedudukan, peran, dan fungsinya tidak dapat dipisahkan dari individu selaku aparat (pegawai) yang mempunyai persepsi, nilai, motivasi dan pengetahuan dalam rangka melaksanakan fungsi, tugas, dan tanggung jawab sosial. Perilaku manusia dalam organisasi sangat menentukan pencapaian hasil yang maksimal dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi. Thoha (2005:29) menjelaskan bahwa perilaku manusia adalah fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Perilaku seorang individu terbentuk melalui proses interaksi antara individu itu sendiri dengan lingkungannya.

Setiap individu mempunyai karakteristik tersendiri, dan karakteristik tersebut akan dibawanya ketika ia memasuki lingkungan tertentu. Karakteristik ini berupa kemampuan, kepercayaan pribadi, kebutuhan, pengalaman dsb. Demikian pula halnya dengan organisasi sebagai lingkungan bagi individu mempunyai karakteristik tertentu, yaitu keteraturan yang diwujudkan dalam susunan hierarki, pekerjaan, tugas, wewenang dan tanggung jawab, sistem imbalan dan sistem pengendalian. Jika karakteristik individu (aparat) dan karakteristik organisasi (birokrasi) berinteraksi maka terbentuklah perilaku individu (aparat) dalam organisasi (birokrasi).

  1. Konsep Budaya Orgnisasi
  2. Pengertian

Menurut Sarplin

Merupakan suatu sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur sistem formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.

Menurut Peter F. Drucker

Pokok penyelesaian masalah-masalah eksternal dan internal yang pelaksanaannya dilakukan secara konsisten oleh suatu kelompok yang kemudian mewariskan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat untuk memahami, memikirkan, dan merasakan terhadap masalah-masalah terkait. (Riani, 2010 : 7)

Jadi, kesimpulan dari pengertian budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi.

  1. Proses Budaya Organisasi
  2. Proses Terbentuknya Budaya Organisasi

Untuk membentuk budaya organisasi, prosesnya dimulai dari tahap pembentukan ide dan diikuti oleh lahirnya organisasi. Meski pada tahap pembentukan ide organisasi tersebut belum menjadi kenyataan atau ada wujudnya secara fisik, tahap ini menjadi dasar terbentuknya budaya organisasi. Pada saat para pendiri organisasi memiliki ide untuk mendirikan organisasi, maka budaya organisasi pasti akan ikut terpikirkan meskipun masih secara eksplisit. Budaya organisasi baru menjadi kenyataan ketika organisasi sudah benar-benar berdiri. Dapat dikatakan bahwa ketika organisasi berdiri, pembentukan budaya organisasi pun ikut dimulai. Hal ini dijelaskan oleh Schein (1985) yang menyatakan bahwa pembentukan budaya organisasi tidak bisa dipisahkan dari peran para pendiri organisasi. Prosesnya mengikuti alur berikut:

  1. Para pendiri dan pimpinan lainnya membawa serta satu set asumsi dasar, nilai-nilai, perspektif, artefak ke dalam organisasidan menanamkannya kepada karyawan.
  2. Budaya muncul ketika para anggota berinteraksi satu sama lain untuk memecahkan masalah-masalah pokok organisasi yakni masalah integrasi internal dan adaptasi eksternal.
  3. Secara perorangan, masing-masing anggota organisasi boleh menjadi seorang pencipta budaya baru (culture creator) dengan mengembangkan berbagai cara untuk menyelesaikan persoalan-persoalan individual seperti persoalan identitas diri, kontrol, dan pemenuhan kebutuhan serta bagaimana agar bisa diterima oleh lingkungan organisasi yang diajarkan kepada generasi penerus.
  1. Lingkungan Organisasi

Lingkungan Organisasi adalah semua elemen didalam maupun diluar organisasi yang dapat mempengaruhi sebagian atau keseluruhan suatu organisasi. Terdapat dua jenis klasifikasi lingkungan yakni lingkngan internal dan lingkungan eksternal.

Lingkungan internal yang berpengaruh langsung dalam organisasi meliputi karyawan/pegawai, serta pimpinan manajernya. Lingkungan eksternal dibagi dua yaitu yang berpengaruh langsung dan tidak langsung. Contoh lingkungan yang berpengaruh langsung adalah organisasi pesaing, pemasok kounitas lokal, konsumer dll. Sedangkan contoh lingkungan eksternal yang tidak berpengaruh langsung adalah kondisi politik, ekonomi dan sosial.

  1. Tingkah Laku Individu dan Motivasinya

Bahwa timbulnya tingkah laku seseorang karena dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang ada didalam diri manusia itu sendiri. Mc Clelland (1974 ) mengemukakan bahwa dalam diri individu terdapat tiga kebutuhan pokok yang memotivasi seseorang untuk mendorong tingkah lakunya. Adapun kebutuhan tersebut:

  • Need for Achievement

Merupakan kebutuhan untuk meraih sukses, yang diukur berdasarkan standar kesempurnaan dalam diri seseorang. Kebutuhan ini berhubungan erat dengan pekerjaan dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi tertentu.

  • Need for Affiliation

Merupakan kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam hubungannya dengan orang lain. Kebutuhan ini mengarahkan tingkah laku untuk mengadakan hubungan secara akrab dengan orang lain.

  • Need for Power

Kebutuhan untuk menguasai dan mempengaruhi terhadap orang lain. Kebutuhan ini bisa menyebabkan seseorang tidak memperdulikan perasaan orang lain.

Ketiga kebutuhan tersebut akan selalu muncul dalam tingkah laku individu dalam kehidupannya sehari-hari, hanya saja kekuatannya tidak akan sama antara individu yang satu dengan individu yang lain. Berikut adalah gambaran tingkah laku individu yang tampak dan jenis kebutuhan yang mendorongnya :

  • Tingkah laku individu yang didorong oleh kebutuhan berprestasi (need for achievement) yang tinggi akan nampak sebagai berikut :
  • Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif.
  • Mencari feedback tentang peruatannya.
  • Memilih resiko yang moderat pada perbuatannya, dengan demikian berarti masih ada peluang untuk berprestasi yang lebih tinggi.
  • Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya.
  • Tingkah laku individu yang didorong oleh kebutuhan untuk bersahabat (need for affiliation) yang tinggi akan nampak sebagai berikut:
  • Lebih mengutamakan segi hubungan pribadi dari pada segi tugas-tugas yang ada pada pekerjaannya.
  • Melakukan pekerjaannya akan lebih efektif apabila bekerjasama dengan orang lain dalam suasana yang kooperatif.
  • Mencari persetujuan dan kesepakatan dari orang lain
  • Lebih suka dengan orang lain dari pada sendirian.
  • Tingkah laku individu yang didorong oeleh kebutuhan untuk berkuasa yang tinggi akan nampak sebagai berikut:
  • Berusaha menolong orang lain meskipun tidak diminta.
  • Sangat aktif menentukan arah kegiatan dari organisasi dimana ia berada
  • Mengumpulkan barang-barang atau menjadi abggota perkumpulan yang prestise
  • Sangat peka trhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok atau organisasi
  1. Kepemimpinan
  2. Pengertian

Pengertian Kepemimpinan menurut S.P. Siagian adalah kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan dalam suatu pekerjaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya supaya berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku positif ini memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi. Menurut Prof. Kimbal Young, Pengertian Kepemimpinan ialah bentuk dominasi didasari kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu, berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Menurut Howard H. Hoyt, Pengertian Kepemimpinan ialah seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kamampuan untuk membimbing orang.

Dari pengertian kepemimpinan diatas, dapat dikemukakan bahwa pada kepemimpinan itu terdapat unsur-unsur, sebagai berikut :

  1. Kemampuan mempengaruhi orang lain, dalam hal ini bawahan atau kelompok.
  2. Kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain.
  3. Untuk mencapai tujuan organisai atau kelompok.
  1. Fungsi Kepemimpinan

Fungsi kepemimpinan sebagai berikut :

  • Memprakarsai struktur organisasi
  • Menjaga adanya koordinasi dan integrasi dalam organisasi, supaya semuanya beroperasi secara efektif
  • Merumuskan tujuan institusional atau organisasional dan menentukan sarana serta cara-cara yang efesien untuk mencapai tujuan tersebut
  • Mengatasi pertentangan serta konflik-konflik yang muncul dan mengadakan evaluasi serta evaluasi ulang
  • Mengadakan revisi, perubahan, inovasi pengembangan dan juga penyempurnaan dalam organisasi

Dahulu ketika manajemen pemerintahan di Indonesia masih kental dengan sistem administrai negara yang lebih tepat dikatakan sebagai alat untuk menegakkan kekuasaan negara bukan kekuasaan rakyat, masyarakat beranggapan bahwa rakyatlah yang harus melayani negara, bukan negara yang melayani rakyat. Seiring berjalannya waktu orientasi tata kepemerintahan sekarang ini lebih banyak ditekankan pada peran masyarakat terlebih dahulu dari pada penguasa.       Perubahan paradigma ini membawa pengaruh yang besar dalam tata kehidupan pemerintahan. Salah satu pengaruhnya antara lain ialah ditempatkannya rakyat pada posisi yang utama dalam mengukur keberhasilan pelayanan birokrasi pemerintah. Disini jelas bahwa peran pemimpin sangat berpengaruh bagi rakyat dan negaranya dalam membangun negara yang aman, damai dan sejahtera.

  1. Ancaman Patologi Birokrasi

Patologi Birokrasi (Bureaupathology) adalah himpunan dari perilaku-perilaku yang kadang-kadang disibukkan oleh para birokrat. Fitur dari patologi birokrasi digambarkan oleh Victor A Thompson seperti “sikap menyisih berlebihan, pemasangan taat pada aturan atau rutinitas-rutinitas dan prosedur-prosedur, perlawanan terhadap perubahan. Red Tape merupakan awal kemunculan dari sebuah Patologi ini. Red Tape disebabkan adanya kecenderungan alami yang terjadi di dalam tubuh dan para birokrat yang tercetak dari rutinitas kegiatan mereka sendiri. Birokrasi yang semestinya lebih memper-efisien-kan proses malah semakin berbelit-belit karena para birokrat terlalu “patuh” pada prosedur yang ada. Jenis dari Patologi Birokrasi selain Red Tape yaitu Korupsi, Kolusi, Nepotisme, tidak adanya akuntabilitas, pertanggung jawaban formal, dan lain sebagainya.

Negara berkembang lebih mudah terinfeksi. Negara berkembang bisa dikatakan sebagai pusat dari Patologi Birokrasi. Negara-negara berkembang menghadapi ancaman patologi birokrasi, yaitu birokrasi yang cenderung mengutamakan kepentingan sendiri, terpusat, dan mempertahankan status quo. Patologi birokrasi juga menyebabkan birokrasi menggunakan kewenangannya yang besar untuk kepentingan sendiri.

Ciri dari birokrasi negara berkembang yaitu: Pertama, administrasi publiknya bersifat elitis, otoriter, menjauh atau jauh dari masyarakat dan lingkungannya serta paternalistik. Kedua, birokrasinya kekurangan sumber daya manusia (dalam hal kualitas) untuk menyelenggarakan pembangunan dan over dalam segi kuantitas. Ketiga, birokrasi di negara berkembang lebih berorientasi kepada kemanfaatan pribadi ketimbang kepentingan masyarakat. Keempat, ditandai adanya formalisme. Yakni, gejala yang lebih berpegang kepada wujud-wujud dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang sesungguhnya terjadi. Kelima, birokrasi di negara berkembang acapkali bersifat otonom. Artinya lepas dari proses politik dan pengawasan publik. Administrasi publik di negara berkembang umumnya belum terbiasa bekerja dalam lingkungan publik yang demokratis.

Dari sifat inilah, lahir nepotisme, penyalahgunaan wewenang, korupsi dan berbagai penyakit birokrasi yang menyebabkan aparat birokrasi di negara berkembang pada umumnya memiliki kredibilitas yang rendah.

  1. Perubahan adalah Kebutuhan

Perubahan yang terjadi dalam birokrasimau tidak mau akan membawa perubahan pada aspek sosial masyarakat. Sebut saja birokrasi mataraman yang dikenal feodal menjadi salah satu ciri sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama Jawa. Model birokrasi ini kemudian digantikan dengan model birokrasi barat yang demokratis dan organisasi yang modern bercirikan spesialisasi kerja. Perubahan bentuk birokrasi ternyata memberikan dampak yang cukup besar dalam masyarakat.

Sebagai sumber struktural, pemerintah atau birokrasi merupakan kekuatan agen perubahan dalam bentuk kekuatan tekanan (driving fronces) dan akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Perubahan dapat terjadi dengan memperkuat driving fronces dan melemahkan resistenceces to change.

Peran birokrasi sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Pilihan-pilihan terhadap model birokrasi yang diterapkan hingga pendekatan pembangunan turut memberikan corak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Birokrasi memegang peranan yang sangat besar dalam pembangunan yang mengakibatkan perubahan-perubahan. Maka dari itu masyarakat sangat berharap kepada para birokrat untuk bekerja semaksimal mungkin demi terwujudnya negara yang aman, damai, tentram dan sejahtrera.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

                        Birokrasi adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan, cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban serta menurut tata aturan yang banyak liku-likunya. Kecenderungan birokrasi dan birokratisasi pada masyarakat modern benar-benar dipandang memprihatinkan. Birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya.

Perilaku birokrasi pada hakekatnya merupakan hasil interaksi birokrasi sebagai kumpulan individu dengan lingkungannya. Perilaku birokrasi yang menyimpang lebih tepat dipandang sebagai patologi birokrasi atau gejala penyimpangan birokrasi. Patologi birokrasi merupakan himpunan dari perilaku-perilaku yang kadang-kadang disibukkan oleh para birokrat. Korupsi, Kolusi, Nepotisme, tidak adanya akuntabilitas, dan pertanggung jawaban formal termasuk jenis dari patologi birokrasi. Setiap individu mempunyai karakteristik tersendiri, dan karakteristik tersebut akan dibawanya ketika ia memasuki lingkungan tertentu. Jika karakteristik individu (aparat) dan karakteristik organisasi (birokrasi) berinteraksi maka terbentuklah perilaku individu (aparat) dalam organisasi (birokrasi).

Suatu organisasi haruslah mempunyai budaya organisasi tersendiri. Budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk membentuk budaya organisasi, prosesnya dimulai dari tahap pembentukan ide dan diikuti oleh lahirnya organisasi. Dapat dikatakan bahwa ketika organisasi berdiri, pembentukan budaya organisasi pun ikut dimulai. Lingkungan Organisasi berpengaruh terhadap jalannya organisasi baik lingkungan internal yang meliputi karyawan/pegawai serta pimpinan manajernya dan juga lingkungan eksternal yang meliputi organisasi pesaing, pemasok kounitas lokal, konsumer dll.

Masyarakat yang berharap kehidupan yang lebih baik menuntut hak-hak nya kepada pemerintah. Jika jawabannya tidak memenuhi keinginan rakyat maka mereka akan memberontak dan beranggapan bahwa birokrasi yang dijalankan hanya untuk mempermainkan rakyat kecil. Timbulnya tingkah laku seseorang karena dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang ada didalam diri manusia itu sendiri. Masyarakat ingin dipimpin oleh pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah mereka. Dimana tugas dari pemimpin ini untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya supaya berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku positif ini memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.

  1. Saran

Demikian makalah Perilaku Organisasi Birokrasi yang dapat kami paparkan kepada pembaca. Saran dan kritik sangat kami harapkan demi terwujudnya wawasan yang luas bagi kita semua. Apabila terdapat kekurangan terhadap makalah ini, kiranya dapat dimaklumi. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Thoha, Miftah.  2012. Birokrasi & Politik di Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers.

Marbun, B.N. 2006. Kamus Hukum Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Flippo B., Edwin. 1984. Manajemen Personalia. Jakarta : Erlangga.

http://www.kajianpustaka.com/2014/06/perilaku-birokrasi-di-indonesia.html

http://yunitamartha.weblog.esaunggul.ac.id/tag/konsep-budaya-organisasi/

http://www.pengertianpakar.com/2014/12/pengertian-fungsi-dan-sejarah.html

http://www.kompasiana.com/ginantaka/perubahan-adalah-kebutuhan_550f45a9813311bb2dbc65a0

https://arrosyadi.wordpress.com/2009/02/06/patologi-birokrasi/

http://lnk996.blogspot.co.id/2015/04/makalah-tentang-lingkungan-organisasi.html?m=1